Artikel pertama ku

MALAIKAT KENAPA  MEMBUNUH ?
Oleh : Tri Ulfa Wardani

            Malaikat tanpa sayap itulah ibu, karena dia yang mengorbankan apapun demi  anaknya. Ibu adalah sosok wanita yang telah melahirkan, merawat, dan mengasuh anak yang telah dititipkan Allah untuknya. Merawat dan menjaga seorang adalah kewajiban setiap ibu. Serta memberikan kasih sayang terhadap anaknya. Dengan rasa tulus dan naluri yang tersalur dari hati ibu rela melakukan apapun untuk si buah hati. Dan ibu adalah guru pertama yang mengajar seorang anak yang baru lahir kedunia. Tanpa sosok ibu, maka tak terlahirlah manusia di bumi ini.
Ibu sebagai malaikat penjaga, malaikat pembela serta malaikat yang memberikan segala kebaikan untuk anak-anaknya. Mendapatkan derajat yang tinggi dan setiap anak memiliki kewajiban untuk menghormatinya. Allah berfirman didalam kitab-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara kedua atau kedua-duanya berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu sekali-kali mengatakan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia”. Dari ayat tersebut menyimpulkan bahwa setiap anak harus menjaga sopan-santun terhadap orang tua mereka, serta larangan untuk mendurhakai orang tua. Dan menganjurkan untuk berbuat baik kepada para orang tua, tidak boleh menghardik mereka.
Akan tetapi, kenapa masih banyak para ibu yang tega menyia-nyiakan anak yang telah dititipkan Allah kepadanya? Apakah mereka tidak mensyukuri nikmat yang telah mereka dapatkan? Ini adalah sebuah pertanyaan besar. Karena pada hakikatnya ibu selalu dan harus selalu menjaga anaknya, bukan menyakiti atau menyia-nyiakan. Bahkan ada beberapa ibu yang tega membunuh anaknya sendiri.
Di era globalisasi ini banyak kalangan muda yang mendapatkan pendidikan yang tidak bermoral. Seperti dunia malam, yang telah menjerumuskan mereka kepada perzinahan. Awalnya hanya terpengaruh selanjutnya meraka mencoba untuk memasuki dunia tersebut tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi di kemudian harinya. Melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Melakukan hubungan intim dengan lelaki yang bukan suaminya. Dan akhirnya mereka positif hamil, dan janin tersebut  diperoleh dari perzinahan. Astagfirullah betapa minimnya moral wanita tersebut.
Tidak ingin mendapatkan rasa malu adalah awal kebencian terhadap janin yang mereka kandung. Mereka hanya ingin melakukan tapi tidak ingin untuk mempertanggung jawabkannya. Penolakan untuk hamilpun dilakukan. Mereka merasa apabila memperoleh anak dari hasil hamil diluar nikah seperti mendapatkan suatu aib yang besar atau cacat fisik yang akan selamanya melekat pada mereka. Sehingga mereka tega untuk membunuh janinnya sendiri. Sikap seperti inikahyang  mencerminkan seorang malaikat? Tidak, seorang ibu yang memiliki sifat malaikat tidak akan mungkin tega menghabisi anaknya sendiri untuk menutupi rasa malunya.
Dengan berbagai metode yang mereka lakukan untuk menutupi rasa malunya. Aborsi adalah cara yang biasa dilakukan para calon ibu yang malu mengandung janin yang tumbuh di rahimnya. Dengan menggugurkan janin yang tidak berdosa, tanpa ada rasa prikemanusiaan mereka lakukan untuk menjatuhkan janin tersebut. Dengan berbagai obat-obatan atau dengan meluruhkan janin itu dari Rahimnya. Tanpa ada rasa kasihnya mereka tidak memperdulikan janin itu tercabik-cabik, bahkan bayi yang tak berdosa itu tersiksa. Apakah sosok ibu yang seperti ini wajar disebut dengan sebutan malaikat? Padahal mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri sampai teganya untuk membunuh bayi mungil yang tumbuh di Rahimnya. Mereka melepas tanggung jawab mereka dengan cara yang tidak bermoral dan tidak memiliki hati nurani. Sungguh mereka adalah orang-orang yang telah menyia-nyiakan anugerah Allah yang telah menciptakan manusia.  Padahal mereka pernah dilahirkan oleh generasi sebelum mereka. Tak mereka sadari kalau mereka tercipta dan dititipkan oleh Allah kepada seorang wanita yang bertanggung jawab dan menjalankan kewajibannya. Akan tetapi mereka tega membunuh generasi yang tumbuh di Rahim mereka.
Mereka tidak memperdulikan efek yang akan timbul setelah aborsi. Karena mereka hanya ingin menghilangkan aib dan menutupi kesalahan yang telah mereka lakukan. Padahal mengaborsi itu beresiko sangat besar untuk para wanita yang melakukannya. Terutama resiko terhadap fisik seseorang. Apabila dalam proses pengaborsian wanita tersebut mengalami pendarahan yang hebat, atau pembiusan yang gagal akan berakibat kematian kepada ibu. Dan mengaborsi mengakibatkan kemandulan serta kanker Rahim. Resiko tersebut tidak hanya pada fisik akan tetapi beresiko pada psikologis seseorang. Dalam buku psikolog yang berjudul, “ Psychological Reactions Reported After Abortian” menjelaskan bahwa setelah mengaborsi anaknya, maka seseorang wanita akan beresiko psikologis. Terkadang mereka merasa seperti dihantui oleh bayi yang telah mereka gugurkan, kehilangan harga diri karena dia telah melakukan perzinahan, bahkan mengalami stress. Secara psikologis jiwa seorang ibu yang sengaja untuk mengugurkan anaknya merasa telah bersalah seumur hidupnya. Akan tetapi ia melakoninya demi menjaga nama baiknya.
Dalam rangka merayakan hari ibu ini, semoga para wanita yang telah membunuh janin yang mungkin belum menjadi manusia seutuhnya, dapat menyadari bahwa tindakannya itu melanggar hukum dan harus dipertanggung jawabkan. Bahkan tidak terulang oleh generasi-generasi selanjutnya, karena tindakan yang mereka lakukan sama halnya membunuh. Harusnya mereka merenungi perbuatan mereka, dan bertaubat kepada Sang Pencipta.

Komentar

Postingan Populer